Minggu, 18 Maret 2018

Ramai Si Penari


hari ini kembali langit bersedih..
sesaat langit tampak memudar terang..
di sisi lain perlahan awan mulai tak kuat..
lalu di saat bersamaan satu per satu percikan itu muncul
kian banyak dan deras percikan itu..
jika kamu slalu memperhatikan,
mereka beriringan menari tak tentu irama..

beberapa ranting mulai terombang ambing tak tentu arah.
sesaat mereka ke kiri sesaat mereka ke kanan.
walau penari utama tak lagi terlihat,
namun penari latar terus memercik dengan lembut.
yang ku herankan mengapa penari utama menjadi genangan sesudahnya.
yah, seharusnya tak perlu diragukan buih buih genangan banyak bermunculan.
tadinya ku ingin menceritakan suatu kisah, tapi hingga besarnya kini langit tampak kembali bersinar..

tak bisa kuhitung air mata si awan muram yang berubah menjadi penari. 
uniknya saat mereka mulai menari tanpa irama bersamaan dengan itu, mereka bernyanyi. 
dengan menyentuh waktu yang diperhitungkan mereka bersentuhan dengan tanah.. 

oh iyaaa,, kulupa!
 kemampuan mereka yg bersentuhan. 
dari air mata si awan dan si bumi yang awalnya kering. 
kamu bisa mencium hujan sekaligus mendengar musik yang tak profesional dari mereka.

hahaha

walaupun penari utama tak dikenali dan semakin lama mereka bergabung dengan penari latar yg seperti jarum tipis setipis arti kata tipis.

mereka bagai penari sederhana dengan musik tak berirama hari ini, mengingatku tentang kamu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merensensi buku yuk!

Hai!   Akhirnya ketemu lagi bareng audienz hari ini. Kali ini penulis bakalan membuat resensi buku yang berjudul  "Prakarya dan Kewi...