Rabu, 30 Agustus 2017

KALI PERTAMA

Kali pertama


    Ini tentang dia yang lahir di tahun 1999 tepat 2 tahun sebelum aku ada. Pertemuan pertama adalah rasa penasaran dan kagum. Rasa inigin tahuku membawaku ke pelabuhan asing yang pertama. 

    Tubuhku yang waktu itu adalah yang selaluendekatinya. Dengan kedok ingin mengenal saja, saat itu aku tak mengerti perhatian akan menariknya untuk datang ke pelabuhanku juga. 
Pelabuhannya dan milikku adalah asing bagi kita , tapi itu tak berpengaruh jua. 
Dan kita memiliki rasa untuk memiliki satu sama lain. Rasa itu yang menyatukan kita kepada sebuah status spesial. Dan pada satu tahap, status itu bertahan dan dunia seakan milik kita berdua. 

   Pelabuhan kita terasa damai. 
Dan saat itu juga, ada ombak yang datang dan berkata " Aku ingin berlabuh juga di pelabuhanmu karna pelabuhan yang itu telah lama kusinggahi." 
Ombak itu adalah orang yang tak kutahu seluk beluknya dan yang kurasakan bingung saat dia menunjuk kepada pelabuhan lelaki yang selalu bersamaku sekarang ini. 

Dari telunjuknya yang yakin dan wajah yang ceria membuat pikiranku bekerja dan mengatakan pada hatiku mungkin saja ombak itu bisa menjembatani pelabuhanmu agan lebih dekat dengan pelabuhan lelaki yang selalu bersamaku sekarang ini. 

Selang beberapa lamanya, aku tak melihat jembatan itu yang ada hanya angin yang kencang dengan kabut yang pudar. Ku berusaha untuk menghampiri pelabuhanmu dan aku memeluknya dengan erat agar rasa takut akan firasat buruk yang ada tak mengusikku dan aku merasa hangat kembali dengannya dan senja yang lembut warnanya di langit membuatku tak ingin beranjak dari pelabuhannya. Dan muncul pertanyaan 'haruskah aku meninggalkan pelabuhanmu sendiri agar aku tak perlu menempuh jarak lagi dengan dirinya?'

Tapi dia mendesaknya untuk kembali dan meyakinkanku untuk selalu bersamaku meski angin dan ombak itu semakin kencang.
Dan hari itu, aku duduk diam di ujung pelabuhanku dan mengarahkan pandanganku kepada pelabuhanmu ditemani kehangatan yang tersisa dengan kabut yang semakin pekat serta rintik hujan yang bercampur dengan titik-titik di pipiku dengan harapan aku bisa mengendarai perahu kecil sampai pada pelabuhannya kembali. 
Bersambung... 

Kamis, 24 Agustus 2017

Kesimpulan Materi Bahasa Indonesia

Kesimpulan Materi Bahasa Indonesia 

•> Pertemuan 1
Fokus 3 bulan ke depan adalah berbicara dan menulis dari Bahasa Indonesia dan menjadi bagian di dalamnya. 
Ketika bersama Pak Martinus ada peraturan yang harus dikembangkan dalam diri untuk nilai berbicara dan menulis adalah mempunyai sikap berani, bisa merangkai kata dan tidak munafik dalam menulis.
Dan peraturan di dalam kelas yang  Pak Martinus terapkan adalah 3T yaitu Tahu diri, Tahu Waktu,Tahu Tempat hingga setiap anak mendapat hasil 3O yaitu Olah Otak, Olah Hati, Olah raga dan mendapat mengatur stiap unsur 3O tersebut. 

•> Pertemuan 2
Perkenalan diri dan kami murid diberikan tugas tentang materi yang telah di terima di kelas 10 dan diharuskan mengepost sesuai deadline yang ditentukan. Dan Pak Martinus menjelaskan tentang apa itu diskusi yang benar dan bagaimana berdiskusi yang baik. Dijelaskan oleh Pak Martinus, dalam diskusi mempunyai beberapa bagian yang penting yaitu,
- Pemateri   : orang yang hanya menyampaikan dalam sumber lain. 
- Penyaji      : orang yang ahli dalam bidangnya.
 Pemateri dan penyaji adalah hal yang berbeda. 
- Moderator: orang yang mencatat topik pembicaraan,hari dan tanggal, dan inti pembicaraan yang termasuk ke dalam hasil kesimpulan diskusi. 

•> Pertemuan 3
Dipertemuan ketiga ini Pak Martinus mengajak kami untuk belajar tentang 4 keterampilan berbahasa, diantaranya :
- berbicara  : jenis yang termasuk bagian dari berbicara adalah diskusi dan debat. 
- membaca  : membaca juga mempunyai jenis tersendiri seperti membaca cepat dan                          membaca memindai serta masih banyak lagi. 
- menulis     : yang menarik dari bagian ini seperti karya ilmiah atau yang lainnya. 
- menyimak: kenapa sih menyimak? Bukankah mendengarkan? Menyimak adalah                            bagian terpenting dari 4 karakter ini karna menyimak tingkat lebih.                                tinggi dari mendengarkan. 

•> Pertemuan brikut-brikutnya
Mengapa saya menuliskan brikut brikutnya? Alasan terutama adalah saya tidak tahu tema ceramah yang kami coba bahas dengan membentuk kelompok telah berapa lama berlangsung dan mengalami beberapa tahap yang cukup sulit. 

Kembali ke topik, Pak Martinus berusaha untuk memastikan kami dapat mengerti mengenai ceramah maka dibagi lah kami yang 30 orang siswa menjadi beberapa kelompok dan memiliki tugas masing-masing di dalamnya. 
Ketika pertemuan yang tidak jauh dari hari ini adalah hari dimana kelompok saya menyampaikan sebuah soal dan opini tersendiri dan menanggapi argumen yang diberikan dari teman yang lain. Banyak hal yang saya plajari dan tekad saya adalah 
"Mengembangkan Kemampuan Nalar dengan Cepat dan Tepat."

Sekian tulisan saya ini yangenjadi bagian dari tugas Bahasa Indonesia hari ini. 
Kiranya dipermuliakan Nama Tuhan dan bisa membantu audienzzz semua 🤗🤗🤗

Jumat, 04 Agustus 2017

Menulis Dalam Kelelahan


Ini adalah sebuah rancangan sejak awal
Menekan diri hanya untuk menulis menginspirasi
Aku tak tahu seberapa besar dan cepat ingatanku tentang ini
Tapi ya! Aku sudah mewujudkannya..

Seperti memacu kuda demikian kulatih diriku
Seperti ikan buntal mengembung seperti itu jua ku membulatkan tekadku
Sebagaimana gesitnya tikus got berlari tak kunjung ku mendekati wataknya
Tapi aku berusaha! 

Sekarang kumulai menulis!!! 

Denyut nadiku adalah kitab yang terbuka 
Kulitku berlapis-lapis bukan berarti aku memakan tango terlalu banyak,
Tapiii.. Kulitku terlapisi oleh sikap keras,tangan keras, dan benda keras
Tapi kulitku yang melindungiku.
Dagingku yang keras terkadang melambangkan sikap ku yang kurang cepat memutuskan. 
Rambutku yang panjang dulunya aku mengubahnya menjadi setengah dari potongan rambut yang kusebut karna rambut panjang ku memanjakan sifat cengengku.
Jika kamu melihat kuku ku yang tak indah itu karna kebiasaan yang disebabkan perasaan gugup nan bergetar yang kencang di jantungku. 
Aku tak tahu seberapa baik aku di mata orang, tapi yang kutahu seberapa buruknya aku di mata beberapa orang.
Cengeng ku yang dulu menjadikan ku seperti ledakan api yang meledak tiba-tiba setiap saat sesuai yang kuinginkan.
Ku terjun ke ruang hawa nan panas itu dan aku terjerembab.
Waktu membawaku kepada proses untuk mengubah ruang panas itu menjadi ruang air yang tenang nan jernih. 

Sampai aku tiba di sini.. 

Serba-serbi baru untuk mentalku sendiri
Sudah ku siasati bagaimana sikapku nanti dan responku terhadap apapun. 
Intinya persis seperti sungai yang mengalirkan deru tenang bersamaan dengan suara lembut serta percikan yang segar ~♥~

dan aku sedang belajar menerjunkan diriku ke dalamnya dengan menggandeng waktu...

                                                         'itu saja'

Merensensi buku yuk!

Hai!   Akhirnya ketemu lagi bareng audienz hari ini. Kali ini penulis bakalan membuat resensi buku yang berjudul  "Prakarya dan Kewi...