Rabu, 20 September 2017

Teruntuk 18 September 2017

CINTA DI DALAM MENDUNG 



    Mendung pagi ini mengingatkan tentang cinta yang telah berlalu. Hujan yang turun hari ini melambangkan kekelaman dalam rinduku padamu. Memang aku dan dia tidak punya sejuta kenangan tentang hujan, tapi kami punya sejuta kenangan saat gelap diterangi bulan sabit tanpa purnama.

    Aku berjalan cepat agarku bisa melewati hujan ini dengan payung yang cukup besar di pagi hari, ini puntuk kesekian kalinya. Setiap percikan air dimana-mana memberikan ingatan tentang cara mu mengajakku untuk berjalan bersama untuk pertam kalinya.

   Aku merindukanmu, hai, yang kusebut dia. Terus berjalan dengan ingatan itu. Tengah perjalanan, kurasakan kehangatan yang memaknai tangannya yang dingin namun memberikan rasa nyaman. Setiap dekapan yang dia berikan adalah nyata adanya. Dekapan rasa sayangnya adalah dekapan terhangat yang pernah kurasakan. Dan rasa sayang semakin bertumbuh dan ada diantara aku dan dia. Dengan tatapan kosong pada jalan yang sepi di situ terngiang di salam pikiran saat aku dan dia hanya berdua dengan gitar di tangannya. Ku mulai bernyanyi untuknya. Enggan beranjak dari ingatanku, aku sudah berada di koridor lantai 3. Tempat yang kupijak adalah tempat dimana hatiku luluh saat dia berkata padaku,

 "makanya tetap disini saja jangan kemana-mana!? "

   Saat ini dan masa lampau itu bersamaan senyuman muncul karna hal itu untuk kesekian kalinya. Dan mulai saat dimana bersamanya adalah kesukaanku terhadap aroma hujan. Aroma hujan bukan tentang aroma parfum yang saat itu dia pakai, tapi aroma hujan membisikkan sendunya memori yang telah tertanam pada tanah subur nan dalam di lubuk hati.

   Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang besar dan membuatku terkejut dan tersentak akan satu alasan yaitu perencanaannya untuk pergi jauh. Ketika saat mendengar itu, aku merasa tak bernafas dalam beberapa detik dan rasa gundah gulana melanda diriku. Namun dia tahu apa yang kurasakan adalah tak siap kehilangan dia.

    Hari yang cukup cerah kembali terpancar dari langit dengan hari-hariku bersamanya, menjalankan janji tulus bersama itu siatu hal yang menyenangkan dan terhitung bulan demi bulan terlewati. Berpegang tangan erat sebagai tanda tak ingin berpisah walau apapun. Kalung berhuruf Y terdapat pada saku jeans biru bercorak putih miliknya, yang dia keluarkan untukku
dan berbisik,

"maaf bila tak sebagus yang lainnya"

   aku tersenyum lebar danberkata,

"ini sudah sangat cukup untuk menunjukkannya .. trimakasih <3"



 Namun sayangnya...




DRASSSSSSSS!!! Hujan turun secara langsung tanpa memberikan syarat pada gerimis. Aku dan dia terjarakkan karna seorang perempuan cantik tergolong "dacin". Dayak cina maksudnya. Lewat pesan tak mesra berinisial Y, kami bertengkar hebat hanya karna perempuan yang disebut sahabatnya itu. Kedekatan yang mereka buat seakan-akan hanya untuk mempermainkan perasaan dan pikiranku saja. Aku tergolong perempuan lugu yang mencintai lelaki tampan bersahabat banyak dengan perempuan lainnya. Ku remas kalungnya dan bertanya pada diriku seberapa tak layaknya aku karna ternyata tak banyak kuketahui tentangnya. Jalan bujur tak kami temukan, namun hanyalah malam dingin yang tersisa tanpa perhatian biasanya.

  Pada akhirnya,
 Petir menyambar.
 Seiring gerimis keras menangis.
 Aku memberikan satu kata yang sangat menyakiti hatinya lebih dalam dari sebelumnya. PUTUS.
Keputusan yang kuambil sepihak tanpa berpikiran panjang dengan tingkah laku terlalu kekanak-kanakan dengan sumbu lilin pendek bercahaya besar yang hampir padam.

   Satu jam.. Satu hari.. Satu minggu..
  Gerimis terus menemaniku untuk menutupi air mata kerinduan karna keputusan tak adil yang ku ambil sendiri. Dulu aku sangat bodoh dan sekarangpun seperti itu.
Aku terlalu banyak menangis hingga bengkak mataku dan suntuk mukaku dengan tak selera makan minumku.

   Setelah kenangan pahit itu, aku memutuskan menutup diri dalam kekelaman rindu tanpa kekasih yang mengucapkan kata engkaulah kekasihku.
Kosong melompong sama dengan hampa adalah hatiku.
Hati yang tergembok rapat dan kuncinya dibuangnya dalam lubang saluran air dalam tanah yang dalam yang terbawa arus entah kemana.

  Satu-satunya yang tersisa lama hanyalah ...
Senyuman indah, dekapan hangat yang rapuh, suhu dingin dari tangannya , warna hijau kesukaannya dan...

  Suatu gambar yang sangat kusayangi bertuliskan
"Janganlah takut.
 Jika kita berjodoh Tuhan akan mempertemukan kita
  kembali.."

  Satu-satunya yang kutinggalkan untuknya hanyalah sebiah sayatan pisau tanpa darah yang membekas dan takkan pernah hilang sampai aku yang mengobatinya dan mungkin takkan ada yang mengobatinya.

Kini yang berjejak dalam diri, pikiran,hati ialah...

"Rindu yang samar, penyesalan tiada akhir, tangisan keras tak bersuara dan hati hampa tanpa penghuni."

1 komentar:

  1. Judul : Cinta Di Dalam Mendung
    Pengarang : Vania Andriany
    Kelebihan :
    - Kata-kata yang digunakan cukup sederhana untuk membantu penggambaran cerita
    Kekurangan :
    - Ada beberapa typo
    - ‎Berapa kalimat terlalu terbelit, sulit dipahami
    Penutup :
    Saya merekomendasikan cerita ini jika pembaca menyukai cerita dengan bahasa yang lumayan berbobot.

    BalasHapus

Merensensi buku yuk!

Hai!   Akhirnya ketemu lagi bareng audienz hari ini. Kali ini penulis bakalan membuat resensi buku yang berjudul  "Prakarya dan Kewi...